Tulisan ini bukan untuk menyinggung pihak manapun termasuk pengemis. Meski saya memberi judul Mengenali Mental Pengemis. Mental Pengemis yang saya maksud adalah mental meminta-minta dengan menengadahkan tangan kosong yang halus. Karena pengemis sering melakukan hal ini, maka saya sebut sebagai mental pengemis.

Mental Pengemis tidak selalu dialami oleh mereka yang miskin dan hidup serba berkekurangan. Karena sebenarnya mereka punya potensi masing-masing. Pernah lihat pengamen jalanan yang bermain gitar walau tidak mempunyai kedua buah tangan? (Jika belum bisa lihat disini).
Permainan gitar pengamen tanpa tangan tersebut tidak kalah dengan mereka yang mempunyai tangan. Nah ini hanya contoh kasus dimana seorang yang kehilangan alat untuk hidup ternyata juga bisa hidup bahkan dengan cara yang lebih mulia, tanpa meminta-minta.
Mental pengemis melanda siapa saja, karena sebenarnya mental pengemis itu adalah kemalasan! Baik orang kaya yang suka menerima tapi enggan memberi, hal ini memang sudah sering saya temui. Memberi bukanlah bergantung pada apa yang kita miliki, namung bergantung dari hati.
Bunda Theresia yang mengabdikan hidupnya untuk merawat orang-orang yang menderita kusta dan penyakit menjijikkan lainnya merupakan contoh orang paling kaya di dunia ini. Coba perhatikan apa yang Bunda Theresia miliki, Mobil? Rumah mewah dan Busana yang made in Prancis? Bunda Theresia tidak memiliki harta duniawi yang membuatnya terlihat sangat miskin. Tapi kekayaan hatinya menjadikan ia lebih mulia dan lebih terkenal daripada orang kaya lainnya.
Kesimpulannya, mental pengemis bukanlah sifat bawaan atau paksaan alam yang membuat kita suka meminta-minta. Jika seseorang mau memberikan segenap hidup yang dia miliki, itu adalah pemberian yang terbesar dari si miskin. Miskin atau kaya bersumber dari hati dan pikiran :)


pertamaxxx dan setujuxxx….
setiap manusia pasti punya tujuan hidup yang dah ditentuin dari sana… tapi ada satu hal yang yang bisa membuat tujuan itu meleset ataupun terpenuhi.. yaitu hati… nggak heran kalo orang arab namain hati itu qolbu.. dari kata kerja qolaba – yuqolibu (membalik) nggak heran juga kalo qolbu itu cuma butuh satu dorongan yang tepat untuk berbuat baik ataupun jahat.. so.. kalo mau perkaya hati.. universitas kehidupan satu satunya jawaban.
@pandi merdeka
sip
orang kaya belum tentu bahagia, orang miskin belum tentu sengsara
Setuju dengan yang diatas…
Orang miskin belum tentu menderita
orang kaya belum tentu gembira.
bener sekali bos kita sikapi secara bijak saja
byme salam kenal
@Kadek Bagus
@rusakparah
betul, semua dari hati
@byme
salam kenal juga
Saya jadi teringat komunitas TDA (Tangan Di atas) yang mendidik kita untuk membuang mental meminta-minta dan mengedepankan mental memberi.
Meski tidak mudah, tetapi kita tetap harus memulainya.
kembali lagi membawa kebahagiaan, sembari membaca artikel di sini :) pemikiran yang kritis bung
@ponseli

Waduh.. takut ah jadi mental pengemis.. buang jauh2 rasa malas.. (tapi sulit, hehehehehe)
hmm..yang terpenting emang dari hati..kalo punya duit banyak tapi sering takut kehilangan kekayaannya, ya sama aja boong
@Andre
iya sih
semoga bagi mereka yang memiliki harta yang melimpah sudah menjalani kewajibannya untuk memberikan sedekah 2,5% atas hasil yang telah kita terima :)
ho oh…bener banget tuuu…smuanya tu kluar dari hati…
@audy
sip
@harianku
semoga
Allah tidak pernah membeda2kan orang yang miski dan kaya.
Allah melihat manusia dari ibadahnya.
maka kita manusia tidak boleh sombong dan tidak boleh membeda2kan sesama manusia.
@jafar
betul bro
sama aja ..
:D
hehe
akhirnya toh sama :) yang baik masuk surga yang j****t masuk n****ka :)
@heru
haha…