( March 16th, 2009 )

Akhirnya Datang Juga :) Liburan di Bali agak aneh sih menurut saya. Di saat tanggalan masih berwarna hitam putih, eh malah libur. Ini disebabkan di Bali ada yang namanya Hari Raya Galungan & Kuningan yang kebetulan jatuh pada 17, 18 dan 19 Maret 2009. Jadinya kalo di kota-kota lain masih kerja, di Bali malah libur semua.

Sebenernya libur total sih nda, lha wong masih numpang di rumah bos. Cuma bedanya, kerjaan bisa ditinggal sementara untuk mendalami ilmu wejangan dari para sesepuh blogger. Mau mudik juga percuma, yang lain kerja masakan saya malah mengganggu. Sementara itu Hari Raya Nyepi juga jatuh pada bulan Maret tanggal 26 minggu depan. Alamat nyepi di rumah bos lagi nih.

Nyepi apaan sih?
Nyepi adalah hari dimana konon katanya sih dewa-dewa lagi naik ke surga, jadi setan pada turun semua di dunia (kalo ga salah ingat sih gitu hehe..) intinya mereka yang merayakan hari raya nyepi tidak boleh melakukan aktifitas apapun termasuk menyalakan lampu. Hasilnya tentu saja jadi gelap gulita saat malam nyepi. Mereka diwajibkan membaca kitab suci guna menolak bala setan-setan yang lagi berkeliaran. Sebenarnya nih, sehari sebelum nyepi biasanya ada ogoh-ogoh (patung dari kertas dan bambu yang berfungsi untuk menolak bala) yang diarak keliling kampung sehari sebelum nyepi.


( March 13th, 2009 )

Komik pelajar bodoh yang merupakan karya Raditya Dika sudah tidak asing lagi di dunia perkomikan Indonesia. Komik serta novel yang ditulisnya merupakan catatan keseharian Raditya Dika selama kuliah di Adelaide Australia. Sesuai julukannya si pelajar bodoh, Raditya Dika memang terkenal “bodoh” karna memposisikan dirinya sebagai pelajar yang bodoh.Kambing Jantan - Pelajar Bodoh by Raditya Dika

Awalnya saya penasaran dengan tulisan si Raditya Dika di blog nya. Tulisannya yang kocak dan unik, diangkat dari pengalaman yang tidak mungkin bisa sama dialami oleh orang lain. Telusuk punya telisik, ternyata Dika sudah menulis blog sejak berumur 14 tahun dengan tujuan mencurahkan aib dirinya dan kebodohan-kebodohannya. Berawal dari saran beberapa teman dekat serta berbagai pertimbangan yang ga penting, Dika mengajukan artikel blognya ke publisher untuk dijadikan sebuah buku.


( March 12th, 2009 )

Postingan Sadar Di Saat Setengah Sadar

Saat menulis artikel ini mata saya sudah mengantuk dan pikiran sudah setengah-setengah. Setengah ingin menulis, setengah ingin tidur. Maklum seharian ini saya kerja lumayan keras dan kemarin kerja sangat keras hehe… Meski setengah sadar dan mengantuk, saya sadar betul dengan apa yang saya tulis.

Dibandingkan dengan polisi yang selalu tidak sadar dengan perkataannya (loh kok ngelantur ke polisi?). Tenang, saya memang sedang membicarakan polisi di negara Indonesia kita yang tercinta ini. Di kota Bali dimana saya bekerja sekarang, saya seringkali pergi ke Gianyar (tempatnya pasar Sukawati) untuk mengurusi pekerjaan bos saya. Adapun dalam perjalanan di ByPass, saya kerap kali menemui polisi yang sedang naik mobil dan menyalip kendaraan di saat garis marka jalan nyambung.


( March 11th, 2009 )

Setelah pulkam sabtu kemaren ke Banyuwangi, saya mendapatkan pencerahan mengenai bisnis internet dan uang. Meski ngeblog tidak harus identik dengan mencari uang, namun saya termasuk golongan yang boleh dikatakan “sambil menyelam minum susu” wkwkwk…

Ceritanya berawal dari pertemuan antara saya dengan saudara sepupu yang sudah lama tidak pernah bertemu. Diawali dengan obrolan ringan seputar pekerjaan masing-masing sampai menjurus ke masalah dewasa. Masalah dewasa yang saya maksud ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan plus plus, melainkan percakapan bisnis.

Saat kami sedang asyik bercerita mengenai pekerjaan masing-masing, saya pun bercerita mengenai bisnis internet yang sedang saya tanam. Saudara saya bertanya apakah sudah ada hasilnya dari ngeblog cari duit. Saya bilang ada meski masih recehan. Lalu dia berkata: “Bukan seberapa besar hasil yang kita dapatkan, tetapi seberapa besar pertumbuhan (growth) bisnis kita”. Saya teringat akan pengajaran dari sesepuh Robert T.Kiyosaki yang kalau tidak salah mengatakan hal yang serupa.


( March 7th, 2009 )

Tulisan ini bukan untuk menyinggung pihak manapun termasuk pengemis. Meski saya memberi judul Mengenali Mental Pengemis. Mental Pengemis yang saya maksud adalah mental meminta-minta dengan menengadahkan tangan kosong yang halus. Karena pengemis sering melakukan hal ini, maka saya sebut sebagai mental pengemis.

Mengenali Mental Pengemis

Mental Pengemis tidak selalu dialami oleh mereka yang miskin dan hidup serba berkekurangan. Karena sebenarnya mereka punya potensi masing-masing. Pernah lihat pengamen jalanan yang bermain gitar walau tidak mempunyai kedua buah tangan? (Jika belum bisa lihat disini).

Permainan gitar pengamen tanpa tangan tersebut tidak kalah dengan mereka yang mempunyai tangan. Nah ini hanya contoh kasus dimana seorang yang kehilangan alat untuk hidup ternyata juga bisa hidup bahkan dengan cara yang lebih mulia, tanpa meminta-minta.


  • Site Info

  • Free PageRank Checker