( July 18th, 2009 )

Balli – propinsi yang sangat mengandalkan bidang pariwisatanya sangat waspada setelah terjadinya ledakan di mega kuningan Jakarta. Sengaja saya beri huruf tebal, supaya lebih jelas bahwa tindakan yang seharusnya adalah pencegahan, malah menjadi tindakan yang menurut saya.. ironis..

Bukan hanya di Bali, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya di Indonesia secara serentak mengadakan pengamanan di berbagai lokasi yang strategis. Pengamanan seperti razia, pemeriksaan kendaraan di terminal/pelabuhan/bandara dan lain sebagainya menjadi jadwal baru hari-hari ini. Penyebabnya adalah tidak lain dan tidak bukan Bom di Jakarta yang meledak kemarin.

Pertanyaannya adalah, mengapa kok hotel sekelas Ritz Carlton dan JW Marriot yang konon katanya merupakan hotel yang aman malah kena bom? Saya rasa jawabannya adalah kelalaian dan meremehkan teroris. Setelah lama kasus Bom Bali 2, mereka sudah merasa situasi aman. Padahal situasi seperti itulah yang menjadi sasaran empuk.

Di Bali, dulu saat saya ke mall, banyak sekali razia kendaraan. Dan beberapa tahun kemarin, razia yang dilakukan sudah mulai asal-asalan. Asalkan melihat orang yang tidak berjenggot, pemeriksaan pun lancar dan ala kadarnya. Jika teroris tidak berjenggot, mudah sekali lolos bukan? Jika motor yang berbagasi diisi bahan peledak, dan kemudian dirakit di mall, bukankah itu hal mengerikan yang pernah terjadi?

Apakah para pengaman negara ini tidak tahu adanya motor berbagasi? Jika sampai kecolongan beberapa kali, pantaskah disebut kecolongan? Bahkan tas laptop pun dengan mudahnya bisa menyembunyikan bom.

Jika memang negara ini pintar, seharusnya tidak perlu menunggu korban berjatuhan. Tidak perlu menunggu sindiran dari negara lain, tidak perlu menunggu diprotes. Pencegahan harus dilakukan mulai saat ancaman terjadi sampai selamanya.

Apalagi kasusnya, teroris buron belum tertangkap. Sebenarnya sih lucu, tapi untuk kasus memilukan ini saya lebih pas menyebutnya ironis. Negara ini ironis… Apalagi pernyataan kekecewaan pihak Manchester United yang batal ke Indonesia.

Apapun penyebab ledakan bom itu, yang patut disalahkan adalah cara pencegahannya yang asal-asalan. Maling tidak akan mencuri kalau tidak ada kesempatan.

baca juga..

10 Responses to “Razia Setelah Bom Jakarta? Ironis Sekali..”

  1. Hmm … mungkin polisi perlu diingatkan lagi bahwa dari dulu sampai sekarang kota-kota di Indonesia selalu menjadi sasaran teroris.

    Walaupun misalnya keadaan 6 bulan kemudian sudah tenang kembali, bukan berarti teroris sudah hilang …

  2. Terlalu sulit untuk mencegah aksi teroris. Tapi memang harus diakui klo pemeriksaan memang ngga terlalu ketat. Tapi apa jadinya ya klo tiap ke mall diperiksa super ketat. Mungkin kita perlu waktu 30 menit untuk di pintu masuknya. Hmm…

  3. @Permana: betul gan

    @Deddy: yang penting aman, daripada bom meledak?

  4. pengebomnya juga pinter….nyari lengahnyanya kita-kita…..yah mungkin kita wajib lbh aware lg sm lingkungan sekitar

  5. @Miss Anna: betul sekali

  6. Kecewa itu wajar, tapi sebaiknya kita mengurangi marah-marah terlebih kalau tidak tepat sasaran kemarahannya….

    Kita ini semua korban, bukan hanya bangsa Indonesia banyak negara lain diseluruh dunia yang juga jadi merasakan kekejaman kelompok teroris. Tapi sudahkah kita memahami, apakah mereka (teroris) hanya melakukannya tanpa alasan, atau sekedar bersenang-senang? Tentunya mereka punya dasar yang kuat sehingga mereka tega melakukannya. Apapun yang terjadi… kita ditakdirkan untuk memihak, dan sadar atau tidak sadar, pada saat yang bersamaan kita juga telah memilih siapa yang akan menjadi musuh kita.

    Dan yang terakhir adalah: Pada siapakah anda memihak, kalau saya lihat anda terlihat lebih marah pada razia, dalam hal ini adalah pihak berwajib.

  7. @Iqbal: yang pasti kalo sudah begini, yang jadi korban pasti warga tak bersalah. Kalo razia dilakukan setelah ada yang meninggal, bukankah itu sangat kurang pantas? Saya memihak hati nurani yang benar, bagaimana dengan Anda?

  8. Kalau saya akan memihak pada perdamaian. Terdengar sederhana memang, tapi bagi saya hal ini tidak mudah. Yang tersulit adalah ketika kita harus berdamai pada diri sendiri sebelum kita mulai dengan orang lain.

    Kita mungkin kecewa dengan sikap pemerintah yang berlebihan, tapi cobalah untuk memahami, mungkin pemerintah juga kecewa atas aksi teroris yang kejam, dan tahukah anda kalau sang teroris juga mungkin kecewa akan suatu hal tertentu. Wajar kalau semua pihak kecewa, marah dan bersedih atas apa yang terjadi di dunia. Seperti halnya dampak/reaksi akan selalu berimbang pada aksi yang mengawali.

    Tapi saya akan selalu mencoba untuk keluar dari lingkaran kemarahan karena pendapat saya mengatakan, banyak hal yang dapat dilakukan seperti: bersimpati pada korban, bekerja sama dengan keadaan dan menghargai kepentingan orang lain tanpa harus memelihara amarah dan kebencian.

    :6:

  9. @Iqbal: bagi saya sih itu masih wajar bila baru pertam terjadi, tapi ini kan bukan kasus perdana. Bahkan, makin lama faktor keamanan makin tidak diperhatikan.

  10. Dunia tidak akan pernah adil bagi siapapun.. bahkan BILL GATES sekalipun. Tapi semakin kita bisa menerima itu, semaikn dekat pula kita pada perdamaian.

    Saya selalu mangajarkan pada anak saya untuk meminta maaf, memaafkan, menghargai, dan berterima kasih. Dengan bekal itu, saya percaya kalau kelak dia akan jadi pribadi yang lebih baik apapun kepercayaannya.

    Sebuah sistem sakral yang seharusnya mengajari kita untuk bijaksana justru memiliki potensi konflik yang paling besar dibandingkan hal-hal yang lain, maka percayalah pak Lukman… hal buruk seperti ini tidak akan pernah berhenti samapi kapanpun, maka lakukanlah protes dengan berbuat kebaikan. Dan selalu berharap jangan ada diantara kita yang terlibat atau menjadi korban atas ketidakadilan ini. Karena berharap sama dengan berdoa, walaupun kita tidak percaya Tuhan.

Leave a Reply

:3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14: :15: :16: :17: :19: :20: :22: :23:

Security Code:

  • Site Info

  • Free PageRank Checker